Friday, 17 April 2009
Lekuk Stasiun UI
Sepuluh
Lima puluh
Seratus dan entah berapa ribu pasang lagi
Roda menggilas kepul angin
Merajai tiap beton licin
Geli sekali lentikan di dua kerut mata
Menerawang tubuh-tubuh acuh
Hendak rintis dunia
Ah bosan tubuh dibalik serat muda ini
Menunggu pedati pendobrak waktu
Penerjang surya yang mencium pinggul pilar
Ah bosan dengan batu dekap rumput
Bosan mencarimu datang dari timur
Melewati gerbang Kampus Perjuangan
Ah
Kau tak datang dengan pantulan gerobak kuning
Lekuk Stasiun UI
Pagar besi benar memenjarai
Jemput aku dengan pedatimu
Sebelum menuju lembah
Tempat kau mempelajari masa lalu
Replika saksi menanti janjimu
Membawaku menjelajah
Kau tak datang juga
Stasiun Universitas Indonesia
April 18th, 2009
08:36
Tuesday, 14 April 2009
Etalase Klise
Tapi terias sedemikian tertata sebegitunya
Terpajang agar gelimangan tubuh berjalan, berhenti sejenak
Terkurung dalam lempengan bening
Terhujat sepedulinya
Apik menarik menyita dua bola kepala
Mendengar sapuan bisik-bisik pedas
Panas melesat menembus lempengan beling di hadapku
Kaku sorotan
Seorang kamu yang membeku
Bercengkrama dengan realita
Bersembunyi janji rancu
Datang di hadapku uluran tangan
Bebaskan aku dari etalase ini
Jika masih ingin basuh lebam
Etalase Klise
Dalam batasan yang tak jauh
Membuat diri semata patung
Diam, memandang, diam lagi
Diantara kau dan aku
Klise
Kita memijak taman yang sama
Bersandar batu yang sama
Tapi saling mengunci
Retakkan etalase ini
Agar aku jadi warna dalam goresan kanvasmu lagi
Bukan darah kau lebat
Aku tak lelah mengusir kelam yang bersetubuh suram
Ada apa kau suram?
Hanya bisa kau
Mencipta dan ingin aku berpelangi
Jangan biar orang lain memecah
Etalase Klise
April 15th, 2009
09:25
Monday, 13 April 2009
Takut Aku Memaku
Dari nyeri-nyeri yang berseri
Aku sesak dalam ruang penjara
Tanpa tralis besi tua atau pun kawat berjaring
Ada yang memaksa hapus titian luka
Dari petak-petak yang mendetak
Aku gugur dalam sandaran debu
Tanpa pasir partikel menggebu
Rupa menelangsa, merajuk benang kenangan ketika gontokan beling tergetar berhadap rasa
Jika kau tetesi setitik darah di depan mukaku, aku bisa bunuh diri
Takut ini menggeming jiwa
Sampaikah isyarat yang ku titipi lewat celah rimba dalam balutan angin dalam kulitmu?
Aku takut
Menghakimi meretak rasa hawa lain terhadapmu
Takut jikalau hawa yang memenjaramu hanya memainkan drama
Takut jika ia murka hempas dan terluka
Takut mendapati ada tetes air di lembah hawa Kota Kembang
Aku takut sayang
Sangat
Jika kau tenggelam atas ribuan pesan yang kuselipkan pada lirihmu
Pada alunan desir daun pagi buta
Aku takut memaku
Pada tiap pijakan rapuh yang membuatmu lelah
Aku khawatir
Apakah kau baik-baik saja malam ini?
Padang Bunga Dalam Penjara
April 13th, 2009
22:29
Thursday, 9 April 2009
Pria Penjual Obat
Lambai bulu yang mengaku
Pada tirai hujan senja itu
Lupa kita pada realita
Kau beri magnet dalam luapan kata
Aku benci pantulan dusta
Memberi ruang dalam dunia, memberhenti waktu
Hembus menyibak kaku
Lupa pada sayu dan pilu
Hei kau pria penjual obat
Lihat dulu siapa yang mau kau obat
Ini wanita pembenci obat
Pelari karsa yang tiada obat
Berani sekali mencari celah
Gerbang belum kubuka
Pria penjual obat
Letih matanya menerkam rapuh
Di lorong-lorong dingin
Aku terkaget, tegaknya kau
Tak takut jika aku hanya mencari teduhan
Semenit kurang taburkan pelita
Genggam jemari diatas kayu jingga
Agar aku tak membohongi rasa yang tak tersampai
Mengapa ikuti titian langkahku
Yang mendikte kontras
Pada keyakinan
Sorot lampu jembatan bingung
Tangga terpijak menggumam
Kita berjalan tau ujung
Peluk saja aku yang terlalu rapuh
Jangan mengiba disela derit kereta
Kau pria penjual obat
Masih rintih sedikit celah hati
Aku terpejam
Geli nyeri jeli
Yakinkan aku
Lebih dari salib di tangan kirimu
Aku terpejam
Terima kasih untuk tiap terik hingga senja lenyap
Aku takut kau tertusuk duri rinduku padanya yang lain..
Salib di kiri melingkar
Masih beranikah rengkuh kanan jemari?
April 10th, 2009
04:11
Ujung Cahaya
Kenapa tak redup
Kedalam himpitan realita
Aku mencoba memaki dinding
Peluhnya trauma
Aku mencoba menyulam aksara
Agar terbentak nalarmu
Walau seperseribu detik saja
Sadarkah kau?
Mencoba mencari ujung cahaya
Yang tak tergoyah
Rebah
Agar tiada terpantul bayang
Dengan bisik menhantui
Masih
Tak kudapat ujung cahaya
Terlalu absolut
Dimanakah kilat berlabuh
Pancar lilin berhenti menangis
Milyaran bintang tenggelam tak tergalaksi
Sinar lentera dari besi berjalan yang lelah
Surya yang menjemu malu
Aku tak hempas
Menemu ujung cahaya
Yang tiada menyapaku
Terik ini menyiksa
Memantul yang tak dihendak
Lantas aku mendidih
Bumi enggan dongengkan
Agar aku tau ujung cahaya
Dan lepas dari limpahan bayangmu
April 10th, 2009.
03:43
Thursday, 2 April 2009
Selamat Malam Cermin
Kenapa kau membisu
Aku ingin bercengkrama
Sejenak saja menyita waktu
Lantas matilah segara umpatan
Selamat malam cermin
Larik yang terasa layu
Sempurnanya merefleksikan benda
Dari jutaan cahaya pilu
Riak terkibas beribu hujatan
Cermin
Aku mencoba meraba dalam doamu
Aku melihat pantulan diri siapa
Begitu menyedihkan
Rapuh dan layuh
Ini refleksi dari apa
Kelam dan hitam
Cermin
Di hadapmu aku menyeru
Retak dalam detak
Ini raga untuk siapa
Cermin
Jangan biarkan disampingku kau pantulkan dirinya
Dalam tangan titik suara
Yang mengisyaratkan rindu
Cermin
Jangan
Cermin
Jangan bawa bayangku di hadapan dirinya
Nanti dia takut dan merasuk lagi
Cermin sampaikan saja
Aku rindu
Selamat malam cermin
Kampus FIB UI
April 3rd, 2009
12:53
Wednesday, 1 April 2009
Wanita Berhati Baja.
Harum kayu putih tak tersibakkan apapun
Tiap Lengkungan mata sudah agak berkerut
Lengah lelah hati teriris dalam mata pisau ketabahan
Genting yang tercemburui hujan dalam angin'
Wanita berhati baja..
Tak pernah aku ingin direngkuh oleh tubuhnya
Tapi aku lemah oleh ujung kata dalam nasihatnya
Dari segala dosa yang tertentang
Dari segala selimut yang kaurebahi di tubuhku
Dari rewelan sang pria dibalik remot kontrol
Dari segala kerisauan atas pekerjaan
Di Penjara ini dan Di Penjaranya
Jikalau orang bertanya, berbisik
Siapakah Wanita Berhati Baja itu
Akan dengan lantang kujawab
Dialah Ibundaku tersayang..
Sedih dan luka yang tergores oleh pria dibalik remot kontrol
Aku tak pernah akan melewatkan pertunjukan senyumnya
Sebelum raga dipisahkan oleh nyawa
Aku akan membahagiakannya
Kampus FIB UI
16:07
HADIAH
Pertama kau suguhkan ke tanganku. Hadiah diantara lantunan lagu rindu. Bukan terbalut dari berlian. Hiasannya juga tidak dengan pita sutera. Entah apa bentuknya. Sangat bercahaya. Bahkan saat aku terpejam berusaha menutup telinga. Helai rambutku menggelitik, seakan ada ujung kuku yang merayu. Tautan jemari membentak alam sadar kita. Sumpah serapah, ini apa? Magnet yang menjemput ceritakah rupanya. Hening diantara bangku-bangku kuning. Saat orang pening dibalik petikan gitar si keling. Begitu eloknya hadiah darimu, aku pun menyambutnya penuh senyum. Terima kasih.
Terlalu sering kau memberi hadiah. Padahal aku tak pernah minta. Dalam kedipan mata yang menenangkan hati. Memahkotai rasa yang jalang. Janganlah kau pantulkan kata dari bibirmu.
Ini hadiah terakhir darimu. Masih saja aku tak sanggup menolaknya. Masih juga bukan berpendar berlian dan kain sutera. Tapi kenapa tak ada cahaya yang terpancar. Sudah hilangkah ketulusan yang luruh. Atau selama ini kau hanya menceritakan dongeng. Tak pernahkah hatimu bergetar saat hadiah yang kau beri semu. Hari belum malam, kenapa kau ingin membuat hujan menjadi kering. Jangan manja aku tanya pada siapa bukan dengan siapa. Kau suguhkan lagi hadiah ini, tiket gratis agar aku bisa merasakan tenggelam kehabisan nafas. Agar aku bisa merasakan jatuh dari negeri langitmu. Agar aku bisa bermain bersama hatimu dan terpenjara dalam sel diujung jiwamu. Sungguh, masih aku terima hadiah ini. Karena aku hanya bisa menerima.
Hadiah membuatku diantara hitam dan putih.
Maafkan jika tidak sempat berterima kasih.
Untuk
Hadiah terakhir..
March 14th, 2009
15:49
Es Teh Manis dan Rokok
Lantak pula pengumpul botol rontok
Masih angin mencandai kuduk
Tak sepatah pun singgah duduk
Segelas es teh manis berganti rokok kedua
Padam gedung angka keberuntungan ganjil
Yang bertatap monumen luka
Tak tega bambu disentil
Segelas es teh manis masih berembun
Percik api rokok kedua, setengah risau tertuntun
Lepas kuliah muka-muka manyun
Tangan-tangan malu menyusun
Segelas es teh manis kan habis
Rokok ketiga baru terkais
Asap melagu bibir tipis
Bikin kembang kempis jadi puitis
Es teh manis
Rokok
Rokok
Segelas es teh manis masi teraduk
Belumlah malam menjemput dari duduk
Kawan masih mengutuk-ngutuk
Tentang hatiku yang lapuk
Dalam mimpi diatas kapuk
Es Teh Manis dan Rokok
Kau tau seharusnya apa
Di bawah atap gubuk
Yang membuatku tersihir
Es Teh Manis dan Rokok
Masihkah engkau tau?
Dan singgah dari pertapaan?
Yang mengunci di gedung ganjil
Aku tak yakin kau tau
Serius
Aku tak yakin..
Kantin Sastra FIB UI
March 16th, 2009
19:23
Atas Kanvas
Di atas kanvas
Meranggas untain kuas
Yang menjelma dimensi
Menohok aksara
Belum sempat diterka
Digoresnya satu per satu
Apa yang tak pernah terefleksi
Dari segala sangsi
Tak perlu air, percuma mengalir
Cat minyak ini tak sudi menyatu
Hanya merenda-renda warna
Menerobos celah
Saat bulir jiwa
Diciptakan untuk rusuknya
Sedan sejuta lebih
Ditertawakan untuk batang penyangga bulu angsa
Digenggamnya patahan fakta dan lembaran cerita
Mempelajari masa lalu, di Taman Budaya..
Tunggu dulu,
Jangan terburu-buru
Kerut keningnya saja menjemu
Serat menyerap agak terlalu malu
Di atas kanvas
Tanpa satu pun sketsanya menari
Untuk sekedar memberi mantra
Siulkan kekurangan hingga sempurna
Didiktenya segala palsu membungkus tahir
Aku masih mengawasinya
Melukis telaga kering, di dalamnya ada sampan rapuh
Mana bisa sampai tepian
Hati ini dengannya saja didayung setengah-setengah
Lewati arus yang mencekik
Apalagi telaga kering
Hujan saja tak rela membasahi
Tenang saja,
Aku masih mengawasinya
Kali ini dia lukis jembatan dengan hitam
Terpejam aku karena terlalu kokoh
Sangat mustahil di atas telaga kering
Satu bilik matanya saja aku menolak menatap
Teriakan batinnya meronta
Agar aku tak membencinya
Tembok pun mengerti
Aku tak bisa memberi koma pada realita
Sudahlah..
Jiwa lain telah memaksa menjadi rusuknya jua
Tapi jiwa yang kupunya ini,
Adalah rusuknya, jembatan hitam yang dia lukis
Yang membawanya menyebrang pada titian telaga kering
Kokoh walaupun dia injakan telapaknya..
Dia minta kepadaku warna merah
Agar sekejap memberi cerah
Tak kuberi, sampai dia terlatah-latah
Risau menerjang marah
Kanvas dia tetesi darah
Aku masih mengawasi
Hingga merah darahnya habis
Untuk melukiskan mawar penuh duri
Menggumpal pula darahku
Aku rela terbang
Mengawasi
Sampai tau siapa yang terakhir tertawa
Bukan Dia bukan Aku
Bukan Darah
di Atas Kanvas...
March 23rd, 2009
Pamulang-Banten.
00:32
