Terjebak dalam rimba lantunan, meretak otak gegas mengarah sajadah
Pada keranda agung tanpa sandiwara panggung
Alat berpijak sedang tak bijak
Kepompong terlalu hangat berkerah surya sengati lempeng kaca
Tiba sudah ke puri tak berperi
Tidak dengan kuda, hanya gerobak merah muda
Gadis Miris Sastra Inggris,
Membabat semak gelisah, memangkas perdu haru
Tiada mengerti tempaan suara
Biar lengah resap jengah
Adakah yang ingin menebar gores lengkung di bawah organ nafasnya?
Atau merentang hasrat di kerikil simpuhan garis sirat?
Murka memonopoli syaraf mulia berjejal murung
Dia terkurung di tengah ordinat teduh
Menelaah penangkal tangis untuk kulit bintang yang berpendar
Gadis Miris Sastra Inggris,
Menepis yang terkikis hingga habis segala manis
Tragis..
April 29th, 2009
21:26
Wednesday, 29 April 2009
Monday, 27 April 2009
Expectation
Buntalan kertas tergeletak di atas keramik, malam yang ganas bikin lemas
Mentari terlalu meranggas pagi tadi di kala aku berpapas dengan segelimangan tubuh yang hendak memetik debu
Dalam hitungan semut berjalan, kusandarkan raga di atas kotak lembut, di bawah temaram lampu aku menghela sepercik nafas
Hendak arwah berjalang menuju negeri di bawah kapuk, namun kau belum menjumput singasana, pemuda berkelana kijang?
Rebah selimut balut raga, jangan lagi detak terkecup kutuk dalam kantuk
Aku belum binasa ketika ujung fajar menanti untuk kembali dikedipkan bilik matamu
April 27th, 2009
23:11
Mentari terlalu meranggas pagi tadi di kala aku berpapas dengan segelimangan tubuh yang hendak memetik debu
Dalam hitungan semut berjalan, kusandarkan raga di atas kotak lembut, di bawah temaram lampu aku menghela sepercik nafas
Hendak arwah berjalang menuju negeri di bawah kapuk, namun kau belum menjumput singasana, pemuda berkelana kijang?
Rebah selimut balut raga, jangan lagi detak terkecup kutuk dalam kantuk
Aku belum binasa ketika ujung fajar menanti untuk kembali dikedipkan bilik matamu
April 27th, 2009
23:11
Sunday, 26 April 2009
Tepi Mimpi
Rupanya pernikahan sedang goyah
Antara bumi dan matahari
Aku menyaksikan mereka terpisah
Memelas dalam kelabu
Kali ini hujan malam waktu barat
Saat kau terpejam, aku jatuh dalam mimpimu
Membungkuk, mencuri kuduk
Mengirim wangi anyir tanpa busana hitam
Beradu dengan peristirahatan
Aku tidak perlu merobek kepalamu
Untuk menggigit kerut itu
Aku hanya ingin meletakkan lentera di belakang mata
Agar kau sejenak tak histeris
Berlabuh terpelanting dalam doaku
Kemudian jatuh dalam hakikimu
Kau terkaget dan bertanya
Sosok aku meradang pada cabang
Bukan membiarkan malaikat berdatang
Bahkan mengirim tulang ke kafan
Sayangnya aku tidak menemu jalan pulang
Aku tersesat dalam tepi mimpi
Lenganmu terlalu kuat menahan
Memintaku membakar realita
Mendampingi dalam pembuluh bawah sadar
Tahukah kau,
Aku pun tak pernah suka yang terakhir
Selepas Hujan Malam Waktu Banten
April 26th, 2009
20:44
Antara bumi dan matahari
Aku menyaksikan mereka terpisah
Memelas dalam kelabu
Kali ini hujan malam waktu barat
Saat kau terpejam, aku jatuh dalam mimpimu
Membungkuk, mencuri kuduk
Mengirim wangi anyir tanpa busana hitam
Beradu dengan peristirahatan
Aku tidak perlu merobek kepalamu
Untuk menggigit kerut itu
Aku hanya ingin meletakkan lentera di belakang mata
Agar kau sejenak tak histeris
Berlabuh terpelanting dalam doaku
Kemudian jatuh dalam hakikimu
Kau terkaget dan bertanya
Sosok aku meradang pada cabang
Bukan membiarkan malaikat berdatang
Bahkan mengirim tulang ke kafan
Sayangnya aku tidak menemu jalan pulang
Aku tersesat dalam tepi mimpi
Lenganmu terlalu kuat menahan
Memintaku membakar realita
Mendampingi dalam pembuluh bawah sadar
Tahukah kau,
Aku pun tak pernah suka yang terakhir
Selepas Hujan Malam Waktu Banten
April 26th, 2009
20:44
PERTIGAAN
Tak sejumput kubuka gerbang
Angin hitam menyusup lewat celah sempit
Tak rapat, tak dapat, mencari sempat
Hahaha keparat !
Aku menyusun seperempat sisa malam
Pada apapun yang berliku
Di pertigaan hati
Menyapa hantu trotoar di pucuk kenistaan
Jembatan pucat tak lupa kubelai
Agar aliran ini tersendat dan mengumpat
Masih kau tidak mengerti?
Belikan saja aku peti
Bukan untuk yang mati atau harum melati
Kaulah yang genggam langkah sedikit darah
Tunjukan gagah tanpa arah
Biarlah
Langit bersuara marah
Rebana memilin lagu
Pulanglah sebelum minggu gagu
Bunda menunggumu penuh terigu
Di pertigaan hati,
Pundi-pundi dalam jerami
Dipusingkan aksioma membentuk harmoni
Aku berbasuh rembulan tanpa teduhan
Lagi-lagi turun hujan
Kuseka tatapan dengan embun
Berkilah melihat sederetan kabar
Dari pancar kotak besi gelegar
Meluncur pada apa yang beda
Harap kau reda untuk mengada
Kalau begitu, biarkan aku menjahit bola mata dengan kelopak lebih dahulu
Hujan Senja Banten
April 26th, 2009
17:15
Angin hitam menyusup lewat celah sempit
Tak rapat, tak dapat, mencari sempat
Hahaha keparat !
Aku menyusun seperempat sisa malam
Pada apapun yang berliku
Di pertigaan hati
Menyapa hantu trotoar di pucuk kenistaan
Jembatan pucat tak lupa kubelai
Agar aliran ini tersendat dan mengumpat
Masih kau tidak mengerti?
Belikan saja aku peti
Bukan untuk yang mati atau harum melati
Kaulah yang genggam langkah sedikit darah
Tunjukan gagah tanpa arah
Biarlah
Langit bersuara marah
Rebana memilin lagu
Pulanglah sebelum minggu gagu
Bunda menunggumu penuh terigu
Di pertigaan hati,
Pundi-pundi dalam jerami
Dipusingkan aksioma membentuk harmoni
Aku berbasuh rembulan tanpa teduhan
Lagi-lagi turun hujan
Kuseka tatapan dengan embun
Berkilah melihat sederetan kabar
Dari pancar kotak besi gelegar
Meluncur pada apa yang beda
Harap kau reda untuk mengada
Kalau begitu, biarkan aku menjahit bola mata dengan kelopak lebih dahulu
Hujan Senja Banten
April 26th, 2009
17:15
Thursday, 23 April 2009
Ekstasi Tak Bereaksi
"Aku mengetuk hari dalam penghujung malam
Menjadi dara penangkap udara
Kata siapa aku takut
Kau saja hanya datang saat nanah tertoreh"
"Tanpa peluh jangan lewat sekelebat
Menjelma menjadi burung nasar
Nanti kau bisa tersasar dalam nanar"
"Daun kepala dikuliahi alasan
Membisikku ke batu nisan
Kau egois
Menghirup yang terkikis
Sekali lagi,
Aku tidak pilu, hanya nyilu.."
"Landai duduk kau mengandai
Di hatiku tiada bangkai
Hanya ada duka yang tak terangkai"
"Kita biru dalam olahan kayu
Bisu diantara sajak indonesia mendayu
Kita biru menderu
Di hadap panggung berganti gagak
Aku lupa pada besi perekam"
"Aku memang ekstasi tak bereaksi
Lalu kenapa kau masih bicara sangsi? "
Auditorium Gedung IX
April 23rd, 2009
SEKITAR PUKUL 5
Menjadi dara penangkap udara
Kata siapa aku takut
Kau saja hanya datang saat nanah tertoreh"
"Tanpa peluh jangan lewat sekelebat
Menjelma menjadi burung nasar
Nanti kau bisa tersasar dalam nanar"
"Daun kepala dikuliahi alasan
Membisikku ke batu nisan
Kau egois
Menghirup yang terkikis
Sekali lagi,
Aku tidak pilu, hanya nyilu.."
"Landai duduk kau mengandai
Di hatiku tiada bangkai
Hanya ada duka yang tak terangkai"
"Kita biru dalam olahan kayu
Bisu diantara sajak indonesia mendayu
Kita biru menderu
Di hadap panggung berganti gagak
Aku lupa pada besi perekam"
"Aku memang ekstasi tak bereaksi
Lalu kenapa kau masih bicara sangsi? "
Auditorium Gedung IX
April 23rd, 2009
SEKITAR PUKUL 5
Kita Biru
Empat deret dari tahta
Aku lihat biru datang
Dari sorotan besi peredam
Aku biru
Kau biru
Dan tak tersinggasana di samping tahtaku
Dia biru
Kita kenapa terpenjara jejak
Ah dua makara tertawa
Ada panggung kita di depan panggung
Aku merantai meniup sajak depan orang bernyanyi tentang cerita
Ada apa kau suram tunggu
Aku terlibat dalam panggung kita
Bukan yang ada di hadapku
Di atas tahta ini
Lagi-lagi mencinta biru
Aku, kau, dia..
Kita Biru..
Aku benci ini melainkan biru !
Auditorium Gedung IX
Kampus FIB UI
April 23rd, 2009
15:17
Aku lihat biru datang
Dari sorotan besi peredam
Aku biru
Kau biru
Dan tak tersinggasana di samping tahtaku
Dia biru
Kita kenapa terpenjara jejak
Ah dua makara tertawa
Ada panggung kita di depan panggung
Aku merantai meniup sajak depan orang bernyanyi tentang cerita
Ada apa kau suram tunggu
Aku terlibat dalam panggung kita
Bukan yang ada di hadapku
Di atas tahta ini
Lagi-lagi mencinta biru
Aku, kau, dia..
Kita Biru..
Aku benci ini melainkan biru !
Auditorium Gedung IX
Kampus FIB UI
April 23rd, 2009
15:17
Friday, 17 April 2009
Lekuk Stasiun UI
Derap pijak sebrang batuan
Sepuluh
Lima puluh
Seratus dan entah berapa ribu pasang lagi
Roda menggilas kepul angin
Merajai tiap beton licin
Geli sekali lentikan di dua kerut mata
Menerawang tubuh-tubuh acuh
Hendak rintis dunia
Ah bosan tubuh dibalik serat muda ini
Menunggu pedati pendobrak waktu
Penerjang surya yang mencium pinggul pilar
Ah bosan dengan batu dekap rumput
Bosan mencarimu datang dari timur
Melewati gerbang Kampus Perjuangan
Ah
Kau tak datang dengan pantulan gerobak kuning
Lekuk Stasiun UI
Pagar besi benar memenjarai
Jemput aku dengan pedatimu
Sebelum menuju lembah
Tempat kau mempelajari masa lalu
Replika saksi menanti janjimu
Membawaku menjelajah
Kau tak datang juga
Stasiun Universitas Indonesia
April 18th, 2009
08:36
Sepuluh
Lima puluh
Seratus dan entah berapa ribu pasang lagi
Roda menggilas kepul angin
Merajai tiap beton licin
Geli sekali lentikan di dua kerut mata
Menerawang tubuh-tubuh acuh
Hendak rintis dunia
Ah bosan tubuh dibalik serat muda ini
Menunggu pedati pendobrak waktu
Penerjang surya yang mencium pinggul pilar
Ah bosan dengan batu dekap rumput
Bosan mencarimu datang dari timur
Melewati gerbang Kampus Perjuangan
Ah
Kau tak datang dengan pantulan gerobak kuning
Lekuk Stasiun UI
Pagar besi benar memenjarai
Jemput aku dengan pedatimu
Sebelum menuju lembah
Tempat kau mempelajari masa lalu
Replika saksi menanti janjimu
Membawaku menjelajah
Kau tak datang juga
Stasiun Universitas Indonesia
April 18th, 2009
08:36
Tuesday, 14 April 2009
Etalase Klise
Aku bukan manekin
Tapi terias sedemikian tertata sebegitunya
Terpajang agar gelimangan tubuh berjalan, berhenti sejenak
Terkurung dalam lempengan bening
Terhujat sepedulinya
Apik menarik menyita dua bola kepala
Mendengar sapuan bisik-bisik pedas
Panas melesat menembus lempengan beling di hadapku
Kaku sorotan
Seorang kamu yang membeku
Bercengkrama dengan realita
Bersembunyi janji rancu
Datang di hadapku uluran tangan
Bebaskan aku dari etalase ini
Jika masih ingin basuh lebam
Etalase Klise
Dalam batasan yang tak jauh
Membuat diri semata patung
Diam, memandang, diam lagi
Diantara kau dan aku
Klise
Kita memijak taman yang sama
Bersandar batu yang sama
Tapi saling mengunci
Retakkan etalase ini
Agar aku jadi warna dalam goresan kanvasmu lagi
Bukan darah kau lebat
Aku tak lelah mengusir kelam yang bersetubuh suram
Ada apa kau suram?
Hanya bisa kau
Mencipta dan ingin aku berpelangi
Jangan biar orang lain memecah
Etalase Klise
April 15th, 2009
09:25
Tapi terias sedemikian tertata sebegitunya
Terpajang agar gelimangan tubuh berjalan, berhenti sejenak
Terkurung dalam lempengan bening
Terhujat sepedulinya
Apik menarik menyita dua bola kepala
Mendengar sapuan bisik-bisik pedas
Panas melesat menembus lempengan beling di hadapku
Kaku sorotan
Seorang kamu yang membeku
Bercengkrama dengan realita
Bersembunyi janji rancu
Datang di hadapku uluran tangan
Bebaskan aku dari etalase ini
Jika masih ingin basuh lebam
Etalase Klise
Dalam batasan yang tak jauh
Membuat diri semata patung
Diam, memandang, diam lagi
Diantara kau dan aku
Klise
Kita memijak taman yang sama
Bersandar batu yang sama
Tapi saling mengunci
Retakkan etalase ini
Agar aku jadi warna dalam goresan kanvasmu lagi
Bukan darah kau lebat
Aku tak lelah mengusir kelam yang bersetubuh suram
Ada apa kau suram?
Hanya bisa kau
Mencipta dan ingin aku berpelangi
Jangan biar orang lain memecah
Etalase Klise
April 15th, 2009
09:25
Monday, 13 April 2009
Takut Aku Memaku
Ada yang memaksa keluar dari aliran darah
Dari nyeri-nyeri yang berseri
Aku sesak dalam ruang penjara
Tanpa tralis besi tua atau pun kawat berjaring
Ada yang memaksa hapus titian luka
Dari petak-petak yang mendetak
Aku gugur dalam sandaran debu
Tanpa pasir partikel menggebu
Rupa menelangsa, merajuk benang kenangan ketika gontokan beling tergetar berhadap rasa
Jika kau tetesi setitik darah di depan mukaku, aku bisa bunuh diri
Takut ini menggeming jiwa
Sampaikah isyarat yang ku titipi lewat celah rimba dalam balutan angin dalam kulitmu?
Aku takut
Menghakimi meretak rasa hawa lain terhadapmu
Takut jikalau hawa yang memenjaramu hanya memainkan drama
Takut jika ia murka hempas dan terluka
Takut mendapati ada tetes air di lembah hawa Kota Kembang
Aku takut sayang
Sangat
Jika kau tenggelam atas ribuan pesan yang kuselipkan pada lirihmu
Pada alunan desir daun pagi buta
Aku takut memaku
Pada tiap pijakan rapuh yang membuatmu lelah
Aku khawatir
Apakah kau baik-baik saja malam ini?
Padang Bunga Dalam Penjara
April 13th, 2009
22:29
Dari nyeri-nyeri yang berseri
Aku sesak dalam ruang penjara
Tanpa tralis besi tua atau pun kawat berjaring
Ada yang memaksa hapus titian luka
Dari petak-petak yang mendetak
Aku gugur dalam sandaran debu
Tanpa pasir partikel menggebu
Rupa menelangsa, merajuk benang kenangan ketika gontokan beling tergetar berhadap rasa
Jika kau tetesi setitik darah di depan mukaku, aku bisa bunuh diri
Takut ini menggeming jiwa
Sampaikah isyarat yang ku titipi lewat celah rimba dalam balutan angin dalam kulitmu?
Aku takut
Menghakimi meretak rasa hawa lain terhadapmu
Takut jikalau hawa yang memenjaramu hanya memainkan drama
Takut jika ia murka hempas dan terluka
Takut mendapati ada tetes air di lembah hawa Kota Kembang
Aku takut sayang
Sangat
Jika kau tenggelam atas ribuan pesan yang kuselipkan pada lirihmu
Pada alunan desir daun pagi buta
Aku takut memaku
Pada tiap pijakan rapuh yang membuatmu lelah
Aku khawatir
Apakah kau baik-baik saja malam ini?
Padang Bunga Dalam Penjara
April 13th, 2009
22:29
Thursday, 9 April 2009
Pria Penjual Obat
Ricik ini tajam menyentuh pilu
Lambai bulu yang mengaku
Pada tirai hujan senja itu
Lupa kita pada realita
Kau beri magnet dalam luapan kata
Aku benci pantulan dusta
Memberi ruang dalam dunia, memberhenti waktu
Hembus menyibak kaku
Lupa pada sayu dan pilu
Hei kau pria penjual obat
Lihat dulu siapa yang mau kau obat
Ini wanita pembenci obat
Pelari karsa yang tiada obat
Berani sekali mencari celah
Gerbang belum kubuka
Pria penjual obat
Letih matanya menerkam rapuh
Di lorong-lorong dingin
Aku terkaget, tegaknya kau
Tak takut jika aku hanya mencari teduhan
Semenit kurang taburkan pelita
Genggam jemari diatas kayu jingga
Agar aku tak membohongi rasa yang tak tersampai
Mengapa ikuti titian langkahku
Yang mendikte kontras
Pada keyakinan
Sorot lampu jembatan bingung
Tangga terpijak menggumam
Kita berjalan tau ujung
Peluk saja aku yang terlalu rapuh
Jangan mengiba disela derit kereta
Kau pria penjual obat
Masih rintih sedikit celah hati
Aku terpejam
Geli nyeri jeli
Yakinkan aku
Lebih dari salib di tangan kirimu
Aku terpejam
Terima kasih untuk tiap terik hingga senja lenyap
Aku takut kau tertusuk duri rinduku padanya yang lain..
Salib di kiri melingkar
Masih beranikah rengkuh kanan jemari?
April 10th, 2009
04:11
Lambai bulu yang mengaku
Pada tirai hujan senja itu
Lupa kita pada realita
Kau beri magnet dalam luapan kata
Aku benci pantulan dusta
Memberi ruang dalam dunia, memberhenti waktu
Hembus menyibak kaku
Lupa pada sayu dan pilu
Hei kau pria penjual obat
Lihat dulu siapa yang mau kau obat
Ini wanita pembenci obat
Pelari karsa yang tiada obat
Berani sekali mencari celah
Gerbang belum kubuka
Pria penjual obat
Letih matanya menerkam rapuh
Di lorong-lorong dingin
Aku terkaget, tegaknya kau
Tak takut jika aku hanya mencari teduhan
Semenit kurang taburkan pelita
Genggam jemari diatas kayu jingga
Agar aku tak membohongi rasa yang tak tersampai
Mengapa ikuti titian langkahku
Yang mendikte kontras
Pada keyakinan
Sorot lampu jembatan bingung
Tangga terpijak menggumam
Kita berjalan tau ujung
Peluk saja aku yang terlalu rapuh
Jangan mengiba disela derit kereta
Kau pria penjual obat
Masih rintih sedikit celah hati
Aku terpejam
Geli nyeri jeli
Yakinkan aku
Lebih dari salib di tangan kirimu
Aku terpejam
Terima kasih untuk tiap terik hingga senja lenyap
Aku takut kau tertusuk duri rinduku padanya yang lain..
Salib di kiri melingkar
Masih beranikah rengkuh kanan jemari?
April 10th, 2009
04:11
Subscribe to:
Posts (Atom)
