Ada derit meninggalkan bongkahan lapuk
Segelimangan tubuh menjajah keringat
Suara menyusup mengepak kantuk
Diantara bidikan jarum jam
Terseok-seok bersama senja
Selusin wajah itu..
Menggores bau asing, melupa derita
Hisap tembakau di depan surau
Selusin Wajah itu..
Memainkan percikan api di selimut malam
Diikuti gesekan kisah-kisah galau
Pada tapakan rimbunan lumut kotor
Di tepian kemarau
Satu hati untuk berbagi
June 27th, 2009
Desa Sajira, Rangkas Bitung
Monday, 29 June 2009
Saturday, 27 June 2009
Masihkah Engkau
Malam ini langit menelangsa sejumput senyum bercahaya
Mengirim sorot pada cengkramaan rekam besi tak bergurat sisi
Suara hati parau gelisah diseruput senja tadi
Indah tetapi resah
Sajira, Rangkas Bitung
June 27th, 2009
23:42
Mengirim sorot pada cengkramaan rekam besi tak bergurat sisi
Suara hati parau gelisah diseruput senja tadi
Indah tetapi resah
Sajira, Rangkas Bitung
June 27th, 2009
23:42
Monday, 22 June 2009
Rindu
Aku merindukanmu seperti meniup ribuan lilin yang tak ingin kupadamkan
Seperti pelupuk tanah yang merindukan daun berguguran luput dari dahan
June 23rd, 2009
Ruang BEM FIB UI
11:25
Seperti pelupuk tanah yang merindukan daun berguguran luput dari dahan
June 23rd, 2009
Ruang BEM FIB UI
11:25
Saturday, 30 May 2009
Tanpa Judul (Part.2)
" Suatu hari ada anak Adam dan Hawa,
Yang satu menggenggam salib,
Satunya merengkuh tasbih,
Atas doa-doa yang terhembus meminta dipersatukan,
Padahal tak pernah satu pun mengicip biji khuldi apalagi buahnya,
Melainkan mencari muara yang sama yaitu Surga..."
"... Anak Adam dan Hawa terhentak karena mereka tak pernah berhasil menaruh telur paskah diatas sajadah..."
"... Dan ketika itu anak Adam tak pernah sadar bahwa ia telah membawa sang anak Hawa dan melelapkannya di atas ranjang api..."
"... Yang anak Hawa tau adalah bahwa sampai aliran darah terpisah dari urat nadinya, ia masih mendengar adzan"
cindymelody
Pamulang
May 30th, 2009
20:52
Yang satu menggenggam salib,
Satunya merengkuh tasbih,
Atas doa-doa yang terhembus meminta dipersatukan,
Padahal tak pernah satu pun mengicip biji khuldi apalagi buahnya,
Melainkan mencari muara yang sama yaitu Surga..."
"... Anak Adam dan Hawa terhentak karena mereka tak pernah berhasil menaruh telur paskah diatas sajadah..."
"... Dan ketika itu anak Adam tak pernah sadar bahwa ia telah membawa sang anak Hawa dan melelapkannya di atas ranjang api..."
"... Yang anak Hawa tau adalah bahwa sampai aliran darah terpisah dari urat nadinya, ia masih mendengar adzan"
cindymelody
Pamulang
May 30th, 2009
20:52
Wednesday, 27 May 2009
Menggambar Nanar
Dengan perlahan mengukir uratmu agar aliran yang lewat melahirkan denyut tak bertepi
Menarik garis lurus serambi menjahit goresan yang belum terkikis
Aku hanya punya selembar kertas yang kusapu dengan gelap terang
Membuatnya lebih perspektif dengan kayu yang terserut
Bukan tak rela, tapi memaksa mengerucut
Tiada kubiarkan tumpul
Maka kuserut saja kayu itu sampai ke jariku
Beberapa menyembul diantara kulitku
Agar kau terombang ambing menempa guratan kasar
Sungguh aku tak pernah ingin menghapusnya
Atau membubuhkan warna yang berlebihan
Karena pasti masih ada bayangan disana...
Pamulang
May 26th, 2009
23:03
Menarik garis lurus serambi menjahit goresan yang belum terkikis
Aku hanya punya selembar kertas yang kusapu dengan gelap terang
Membuatnya lebih perspektif dengan kayu yang terserut
Bukan tak rela, tapi memaksa mengerucut
Tiada kubiarkan tumpul
Maka kuserut saja kayu itu sampai ke jariku
Beberapa menyembul diantara kulitku
Agar kau terombang ambing menempa guratan kasar
Sungguh aku tak pernah ingin menghapusnya
Atau membubuhkan warna yang berlebihan
Karena pasti masih ada bayangan disana...
Pamulang
May 26th, 2009
23:03
Sunday, 24 May 2009
Panas Setahun, Hujan Sehari
Hamparan pasir pada padang itu berisi detak-detak atas serpihan yang tak pernah sempat dipunguti
Selalu kutemukan rerontokan daun kering di derai-derai peristirahatan
Kemarau ini lama bersemayam, menghentikan kata pada petak tenggorokan
Muram mencekam terlalu haus,
Apa yang disebut kehilangan
Namun kali ini langit sembab
Semakin jelas terlihat barisan rintiknya berjatuh tersorot cahaya jingga
Ditelan rona aspal jalanan merengkuh pijakan kita
Melahirkan gejolak atas dua sorot cokelat bening
Membuat merinding, melupa dingin
Panas setahun luruh oleh hujan sehari
Tidak seperti biasanya,
Aku bisa tersenyum sepuas-puasnya
Cindy Melody
Pamulang-Banten
May 24th, 2009
21:14
Selalu kutemukan rerontokan daun kering di derai-derai peristirahatan
Kemarau ini lama bersemayam, menghentikan kata pada petak tenggorokan
Muram mencekam terlalu haus,
Apa yang disebut kehilangan
Namun kali ini langit sembab
Semakin jelas terlihat barisan rintiknya berjatuh tersorot cahaya jingga
Ditelan rona aspal jalanan merengkuh pijakan kita
Melahirkan gejolak atas dua sorot cokelat bening
Membuat merinding, melupa dingin
Panas setahun luruh oleh hujan sehari
Tidak seperti biasanya,
Aku bisa tersenyum sepuas-puasnya
Cindy Melody
Pamulang-Banten
May 24th, 2009
21:14
Monday, 18 May 2009
Mutiara Hitam
Pecah putik jelantah di jengkal telapak
Tembakau diasap meluluhlantakkan rayap
Kemanakah perginya lumut perisai dinding
Gerobak kuning berpeta merah melewati gedung jingga itu
Diam-diam aku masuk dalam pertapaan cemara
Geram mencari mutiara hitam dalam tumpukan garam
Dimanakah jatuhnya sangkakala diri
Membuaiku pada lingkar kerlip cahaya
May 19th, 2009
Kampus FIB UI
12:50
Tembakau diasap meluluhlantakkan rayap
Kemanakah perginya lumut perisai dinding
Gerobak kuning berpeta merah melewati gedung jingga itu
Diam-diam aku masuk dalam pertapaan cemara
Geram mencari mutiara hitam dalam tumpukan garam
Dimanakah jatuhnya sangkakala diri
Membuaiku pada lingkar kerlip cahaya
May 19th, 2009
Kampus FIB UI
12:50
Saturday, 16 May 2009
ANDROID
Pada seonggok daging yang bidang kau sandarkan aku
Melahap molekul pecah berhambur
Pikiranku mampat menerka degup-degup berantai
Kadangkala, kau urai hamparan rambut ini
Helai per helai
Sambil kau curahkan obat merah
Satu helai
Satu tetes
Melalaikan jumlah detik sebelum halilintar
Dengan kapas kau gagas di erangan jiwa tak beranak pinak
Setiap olesan rasa mengingkari masa
Kau susun sisa sari pati tengik menjadi sangat anggun
Diayun lembar kain perban belum terjahit
Tapi kau dapati dua telapakmu berhias jarum
Benang yang menyangkut masih harum
..............
Sampai kau membordir suara untuk ragaku
"Kau itu android, sayang..."
Pamulang-Banten
May 16th, 2009
20:45
Melahap molekul pecah berhambur
Pikiranku mampat menerka degup-degup berantai
Kadangkala, kau urai hamparan rambut ini
Helai per helai
Sambil kau curahkan obat merah
Satu helai
Satu tetes
Melalaikan jumlah detik sebelum halilintar
Dengan kapas kau gagas di erangan jiwa tak beranak pinak
Setiap olesan rasa mengingkari masa
Kau susun sisa sari pati tengik menjadi sangat anggun
Diayun lembar kain perban belum terjahit
Tapi kau dapati dua telapakmu berhias jarum
Benang yang menyangkut masih harum
..............
Sampai kau membordir suara untuk ragaku
"Kau itu android, sayang..."
Pamulang-Banten
May 16th, 2009
20:45
Wednesday, 13 May 2009
NAKED TREE
The rainy landscape consisted of brown leafless tree set against a backround of gray sky
Green crushed velvet marry the brench
When flower acting like rising extreme cold
My broken arms are blankly in seven dreams
I'll be killed by daylight reality
So, should I stay on the naked tree to the greatest evening?
Cindy Melody
May 13th, 2009
Green crushed velvet marry the brench
When flower acting like rising extreme cold
My broken arms are blankly in seven dreams
I'll be killed by daylight reality
So, should I stay on the naked tree to the greatest evening?
Cindy Melody
May 13th, 2009
Tuesday, 12 May 2009
Senja Itu Manja
Senja itu manja
Ketika aku berpura-pura tidur resah menunggui lilin berpendar
Senja itu manja
Ketika aku melihat kau mengasap sebelum purnama
Hingga aku menjajakan mimik gemulai
Ruang 4205
Kampus FIB UI
May 12th, 2009
17:47
Ketika aku berpura-pura tidur resah menunggui lilin berpendar
Senja itu manja
Ketika aku melihat kau mengasap sebelum purnama
Hingga aku menjajakan mimik gemulai
Ruang 4205
Kampus FIB UI
May 12th, 2009
17:47
Subscribe to:
Posts (Atom)
